PERKENALKAN ENRILLE, AZHAR, YOGI. MEREKA KAWAN KAMI. Ironisnya, Dinegara Yang Mengaku Demokrasi Mereka Ditangkap Karena Berdiskusi.

REGIME NEW SKILL UNLOCKED : MEMBERANGUS POLA PIKIR WARAS & KEBERANIAN GEN-Z

Serentetan perburuan terjadi pasca-demo besar Agustus-September 2025. Ugal-ugalan, polisi menangkap ratusan warga sipil, orang biasa yang namanya bahkan tidak pernah kita dengar sebelumnya. Kami menulusuri data 329 tahanan politik, dan menemukan nyaris 90% adalah Gen-Z. Melansir hasil pengolahan data SIPP Pengadilan Negeri Lembaga Bantuan Hukum, dan Pemberitaan Media, klasifikasi generasi generasi tahanan politik berdasarkan rentang usia adalah sebagai berikut:

Kami menelusuri 203 tahanan politik, dan menemukan lebih dari sepertiganya adalah pelajar / mahasiswa. Sisanya adalah pekerja informal seperti tukang ojek dan buruh. Menurut Amalinda Savirani, Guru Besar Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM, ratusan orang menjadi sasaran empuk penangkapan karena posisi rentan / minim dukungan dan koneksi. “‘Kalian bukan siapa-siapa‘ itu pesan utama yang berusaha disampaikan dari penangkapan orang biasa itu.”

Menurut Bivitri Susanti (Pakar Hukum Tata Negara), pemerintah berulangkali telah meromantisasi generasi muda, menggadangnya sebagai aktor utama dalam bonus demografi yang akan membawa masyarakat Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. “Kita semakin bisa melihat bahwa apa yang mereka gaungkan sebagai bonus demografi hanyalah narasi populis yang berbanding terbalik degan apa yang mereka lakukan terhadap anak-anak muda” (Bivitri Susanti, Pakar Hukum Tata Negara).

Alih-Alih diam ketakutan, anak-anak muda justru kian masif menampakkan letupan kemuakan akan kriminalisasi kepada rakyat yang berisik dan getol memprotes negara. Mencuatnya Tagar #SemakinDitekanSemakinMelawan dan #BebaskanKawankami di media sosial, misalnya. Tagar ini digunakan untuk membela para tahanan politik yang sedang berjuang melawan upaya pembungkaman oleh negara. Source: Project Multatuli (ig@projectm_org)

MAGELANG : KOTA SEJUTA BUNGA YANG MENJELMA MENJADI KOTA SEJUTA TANYA BAGI KAWAN KAMI

Siang itu, Mereka hanya megadakan konsolidasi, suatu kegiatan yang umum dilaksanakan oleh kaum intelektual, dengan dasar kegelisahan akan apa yang terjadi didalam negara ini. Saat itu, Affan Kurniawan, pengemudi ojek online tewas dilindas oleh Rantis. Sayang, konsolidasi yang mereka adakan pada 29 Agustus 2025 tidak berjalan mulus. Tiga kawan kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menahan amarah peserta konsolidasi. Mulai dari memberikan edukasi, hingga pertimbangan demo. Namun, akibat amarah yang sudah tidak bisa dibendung, peserta konsolidasi memilih untuk bubar dan pergi ke Polres Magelang Kota dengan sendirinya, melakukan demonstrasi dan menjadi beringas, dan melakukan perusakan fasilitas umum. Padahal, ketika situasi tidak kondusif, mereka berusaha mati-matian menghentikan kerusuhan itu melalui postingan yang diunggah di akun instagram pribadi dan komunitas dan mengatakan bahwa itu tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Disinilah, awal mula mimpi buruk itu terjadi. 15 Desember 2025, mereka ditangkap oleh aparat di 3 tempat berbeda, mendekam dibalik jeruji Polres Magelang Kota, melewati malam pergantian tahun tanpa tawa dari orang-orang tersayang. Sekuat Tenaga menerima sunyi mencekam dibalik tralis, diatas ubin dingin, dan otak yang terus mencari jawaban “Salah Saya Apa?”.

Kini, Persidangan demi persidangan telah dilewati, mereka didakwakan dengan pasal berlapis, mulai dari penghasutan di media, hingga dituduh pemicu kerusuhan. Selain itu salah satu dari mereka Enrille, Bersama LBH Yogyakarta, menjadi garda terdepan dalam advokasi 53+ pelajar sekolah korban asal tangkap yang ditangkap, diintimidasi, dan disebarkan data pribadinya oleh Polres Magelang Kota pasca kerusuhan tanpa dasar dan alasan yang jelas. Esok, mereka tak akan merasakan hangat pelukan penuh maaf sang ibu di Hari Kemenangan. Mengingat, Eksepsi yang mereka ajukan pada Kamis (5/3) telah ditanggapi oleh Jaksa Penuntut Umum pada Senin (9/3) dan eksepsi ditolak seluruhnya oleh Majelis Hakim pada Kamis (12/3) sehingga mereka harus kembali melaksanakan sidang Pembuktian Saksi Penuntut Umum dan berhadapan dengan 12 orang saksi yang akan dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum pada Senin (30/3).

Atas Nama Rakyat Indonesia, Wallahi Enrille Azhar Yogi Bukan Kriminal! Mohon Doa Dan Dukungannya Selalu Untuk Seluruh Tapol Pejuang Demokrasi Sehat di Indonesia. Sampai Menang, Sampai Semua Pulang!

#BEBASKANKAWANKAMI

Author : Bidang Hikmah, Politik, dan Kajian Publik

Design & Set Up : Bidang Media dan Komunikasi

Bagikan Artikel