
Di tengah dinamika global yang ditandai oleh krisis kemanusiaan, disrupsi teknologi, polarisasi sosial, serta menguatnya ekstremisme atas nama agama, umat Islam dihadapkan pada pertanyaan mendasar: seperti apa wajah Islam yang relevan, membumi, dan tetap setia pada nilai-nilai ajarannya? Dalam konteks Indonesia, Muhammadiyah kerap dipandang sebagai salah satu representasi Islam yang sebenar-benarnya Islam yang murni secara akidah, progresif dalam pemikiran, dan konkret dalam amal.
Islam Berkemajuan Sebagai Jawaban Atas Zaman
Sejak lahirnya Muhammadiyah pada 1912 silam, Muhammadiyah selalu berpegang pada Al-Quran dan sunnah dan menjadi gerakan yang mengembalikan maysarakat islam pada ajaran yang sesuai. gerakan purifikasi (pemurnian) dan juga tajdid (pembaharuan) selalu menjadi langkah pasti Muhammadiyah. Muhammadiyah juga mengusung Islam berkemajuan yang bermakna islam tidak hanya berhenti pada ritual atau perayaan belaka tapi juga hadir sebagai kekuatan moral dan intelektual yang mendorong pada kemajuan peradaban.
Di awal era berdirinya, Muhammadiyah menggaungkan Trisula dakwah Muhammadiyah yaitu Healing (kesehatan), Schooling (pendidikan) dan Feeding (sosial). Muhammadiyah berkomitmen bahwa islam yang sejati adalah islam yang dapat berdampak pada lingkungan masyarakat bukan hanya islam yang bergelut dengan tinta dan kertas di ruangan. Muhammadiyah mendirikan PKU (penolong kesengsaraan umat) sebagai bentuk realisasi Healing pada trisula yang kemudian sekarang Muhammadiyah mempunyai 126 rumah sakit (2023) sebagai bentuk komitmen Muhammadiyah dalam membantu umat manusia.
Dalam bidang pendidikan (Schooling) Muhammadiyah sangat berkomitmen untuk berperan dalam mencerdaskan umat, ini dibuktikan dengan 23.000 PAUD/TK, 5.000+ sekolah dasar hingga menengah dan 162 perguruan tinggi milik Muhammadiyah.
Dalam hal sosial, Muhammadiyah tak kalah mentereng dengan yang lain adanya MDMC, MPM dan Lazizmu merupakan bukti kepedulian Muhammadiyah pada sosial, baru-baru ini dalam bencana yang menimpa Aceh, Sumut dan Sumbar Muhammadiyah mengirimkan bantuan 1000+ relawan dan juga Logistik pada korban bencana.
Semua yang dilakukan Muhammadiyah tak lain adalah implementasi dari Al-Quran dan Sunnah, Muhammdiyah berfokus pada aksi daripada berdebat tentang diksi rumit yang kerap orang awam salah pahami, Muhammadiyah ber-Islam dengan tindakan nyata tanpa harus di validasi umat islam, Muhammadiyah diakui tanpa harus mengaku-ngaku.
Moderat dan Toleran
Sikap Muhammadiyah dalam melihat zaman dengan Moderat dan Toleran adalah sikap yang kini langka dimiliki oleh umat islam. Fanatis, arogan dan terbelakang mungkin lebih sering dilekatkan pada umat islam pada masa ini. Namun, Muhammadiyah menolak pandangan tersebut. Islam adalah agama yang Rahmatan lil’alamin dan Muhammadiyah adalah cerminan nyata dari itu. Dibuktikan dengan banyak nya lembaga pendidikan Muhammadiyah yang menerimah murid ataupun mahasiswa Nonis, rumah sakit Muhammadiyah yang tak pandang latar belakang dalam menerima pasien, dan bantuan sosial yang tak melihat agama masyarakat. Muhammadiyah tampil dengan wajah Islam yang sebenar-benarnya.
Pandangan Muhammadiyah pada hukum Islam juga sangat moderat penggunaan metode Tarjih (mengumpulkan yang paling kuat) membuktikan bahwa Muhammadiyah tidak Fanatik pada satu Mazhab/Aliran saja.
Dakwah Kultural dan Struktural Muhammadiyah
Dalam berdakwah Muhammadiyah sangatlah arif, kini Muhammadiyah mempunyai 475 PDM, 3.947 PCM dan 14.670 PRM yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan begitu Muhammadiyah dapat memastikan bahwa dakwah islam akan terus ada dan berdampak, dalam dakwahnya Muhammadiyah tidak serta merta mendakwahkan islam secara saklek, Muhammadiyah masuk dengan akulturasi budaya yang kemudian dijadikan media dakwah islam. Muhammadiyah berdakwah dengan damai dan tanpa paksaan.
Penutup
Muhammadiyah bukan satu-satunya wajah Islam di Indonesia, namun kontribusinya menunjukkan bahwa Islam dapat tampil murni tanpa kaku, modern tanpa kehilangan ruh, dan tegas tanpa kekerasan. Di tengah kebingungan dunia modern, Muhammadiyah menghadirkan Islam sebagai jalan pencerahan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Dengan demikian, menyebut Muhammadiyah sebagai representasi Islam yang sebenar-benarnya bukanlah klaim eksklusif, melainkan pengakuan atas konsistensi nilai, pemikiran, dan amal yang terus diuji dan dibuktikan oleh zaman.
Penulis : Muhammad Farich Al Mughni